apa ada sesuatu diotakmu ..???

Sabtu, 27 Agustus 2011

Adakah Nabi Yang MEnikahi Gadis Usia 9 Tahun ?

 Seorang teman kristen suatu kali bertanya kepada saya, "Akankah anda menikahkan saudara perempuanmu yang berumur 7 tahun dengan seorang tua berumur 50 tahun?" Saya terdiam.

Dia melanjutkan, "Jika anda tidak akan melakukannya, bagaimana bisa anda menyetujui pernikahan gadis polos berumur 7 tahun, Aisyah, dengan Nabi anda?" Saya katakan padanya, "Saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan anda pada saat ini." Teman saya tersenyum dan meninggalkan saya dengan guncangan dalam batin saya akan agama saya.

Kebanyakan muslim menjawab bahwa pernikahan seperti itu diterima masyarakat pada saat itu. Jika tidak, orang-orang akan merasa keberatan dengan pernikahan Nabi saw dengan Aisyah.

Bagaimanapun, penjelasan seperti ini akan mudah menipu bagi orang-orang yang naif dalam mempercayainya. Tetapi, saya tidak cukup puas dengan penjelasan seperti itu.

Nabi merupakan manusia tauladan, Semua tindakannya paling patut dicontoh sehingga kita, Muslim dapat meneladaninya. Bagaimaanpun, kebanyakan orang di Islamic Center of Toledo, termasuk saya, Tidak akan berpikir untuk menunangkan saudara perempuan kita yang berumur 7 tahun dengan seorang laki-laki berumur 50 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, akan memandang rendah terhadap orang tua dan suami tua tersebut.

Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi intruksi untuk menolak pendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami berumur di bawah 18 tahun, dan calon isteri dibawah 16 tahun. Tahun 1931, Sidang dalam oraganisasi-oraganisi hukum dan syariah menetapkan untuk tidak merespon pernikahan bagi pasangan dengan umur diatas (Women in Muslim Family Law, John Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun di negara Mesir yang mayoritas Muslim pernikahan usia anak-anak adalah tidak dapat diterima.

Jadi, Saya percaya, tanpa bukti yang solidpun selain perhormatan saya terhadap Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis brumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50 tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan panjang saya dalam menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya benar adanya.

Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya.

Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tersebut sangat bermasalah. Saya akan menyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisham ibnu `Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.


Bukti #1: Pengujian Terhadap Sumber Yang Menyatakan Nabi Menikahi Gadis usia 7 / 9 tahun

Sebagian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari bapaknya, yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini.
Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, di mana Hisham tinggal disana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.

Tehzibu'l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : " Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq " (Tehzi'bu'l-tehzi'b, Ibn Hajar Al-`asqala'ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50).

Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq: " Saya pernah diberi tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq" (Tehzi'b u'l-tehzi'b, IbnHajar Al- `asqala'ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).

Mizanu'l-ai`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: "Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok" (Mizanu'l-ai`tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu'l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).

KESIMPULAN:
berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah buruk dan riwayatnya setelah pindah ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.

KRONOLOGI:  tanggal penting dalam sejarah Islam:

Pra-610 M: Jahiliyah (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu
610 M: turun wahyu pertama Abu Bakr menerima Islam
613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat
615 M: Hijrah ke Abyssinia.
616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.
620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah
622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina
623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah

Bukti #2:Meminang Siti Aisyah

Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.

Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: "Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyahh dari 2 isterinya " (Tarikhu'l-umam wa'l-mamlu'k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara'l-fikr, Beirut, 1979).

Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa Jahiliyahh usai (610 M).

Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat Jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.

KESIMPULAN: Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.

Bukti # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah

Menurut Ibn Hajar, 
"Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun... Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah" (Al-isabah fi tamyizi'l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu'l-Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978).

Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.

KESIMPULAN: Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar.


Bukti #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma'

Menurut Abda'l-Rahman ibn abi zanna'd: "Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`la'ma'l-nubala', Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu'assasatu'l-risalah, Beirut, 1992).

Menurut Ibn Kathir: "Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]"
(Al-Bidayah wa'l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933).

Menurut Ibn Kathir: "Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau beberapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun"
(Al-Bidayah wa'l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)

Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: "Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 or 74 H." (Taqribu'l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani,p. 654, Arabic, Bab fi'l-nisa', al-harfu'l-alif, Lucknow).

Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari Aisyah berselisih usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah 622M). (100 - 73 = 27)

Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada taun dimana Aisyah berumah tangga.

Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda'l-Rahman ibn abi zanna'd, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.

Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar ? 12 atau 18..?

KESIMPULAN: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.

Bukti #5: Perang BADAR dan UHUD

Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu'l-jihad wa'l-siyar, Bab karahiyati'l-isti`anah fi'l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: "ketika kita mencapai Shajarah". Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar.

Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu'l-jihad wa'l-siyar, Bab Ghazwi'l-nisa' wa qitalihinnama`a'lrijal): "Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb]."

Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud dan Badr.

Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu'l-maghazi, Bab Ghazwati'l-khandaq wa hiya'l-ahza'b): "Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb."

Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 tahun akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perang, dan (b) Aisyahikut dalam perang badar dan Uhud

KESIMPULAN: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.

BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)

Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: "Saya seorang gadis muda(jariyah dalam bahasa arab)" ketika Surah Al-Qamar diturunkan(Sahih Bukhari, Kitabu'l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa'l-sa`atu adha' wa amarr).

Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah(The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir
ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane's Arabic English Lexicon).

Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karena itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.

KESIMPULAN: Riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.


Bukti #7: Terminologi bahasa Arab

Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepadanya tentang pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: "Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)". Ketika Nabi bertanya tentang identitas gadis tersebut (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.

Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun.

Kata yang tepat untuk gadis belia yang masih suka bermain-main adalah, seperti dinyatakan dimuka, adalah jariyah. Bikr disisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaimana kita pahami dalam bahasa Inggris "virgin". Oleh karena itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah "wanita" (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-turath
al-`arabi, Beirut).


Kesimpulan: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah "wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan." Oleh karena itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.


Bukti #8. Text Qur'an

Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur'an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?

Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat, yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur'an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid diaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri.

Ayat tersebut mengatakan : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5) Dan
ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin.

Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ?? (Qs. 4:6)

Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, Seorang muslim
diperintahkan untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, (c) mendidik mereka, dan (d) menguji mereka thd kedewasaan "sampai usia menikah" sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.

Disini, ayat Qur'an menyatakan tentang butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.

Dalam ayat yang sangat jelas diatas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tersebut secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambil tugas sebagai isteri.

Oleh karena itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa Abu Bakar,seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 taun dengan Nabi yang berusia 50 tahun.. Sama
sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.

Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan,"berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?" Jawabannya adalah Nol besar.

Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?

Abu Bakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua, Jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur'an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau
akan menolak dengan tegas karena itu menentang hukum-hukum Quran.

KESIMPULAN: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karena itu, Cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.

Bukti #9: Ijin dalam pernikahan

Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi kesyahan sebuah pernikahan.

Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan.

Adalah tidak terbayangkan bahwa Abu Bakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan mananggapi secara keras tentang persetujuan pernikahan gadis 7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun.

Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah.


KESIMPULAN: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami tentang klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karena itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.

Summary:
Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun, Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah SAW dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang arab tidak pernah keberatan dengan pernikahan seperti ini, karena ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat.

Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di Iraq adalah tidak reliable.

Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karena adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.

Oleh karena itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsb dan lebih layak disebut sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur'an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.

Note: The Ancient Myth Exposed
By T.O. Shanavas ,  Michigan.

from The Minaret Source: http://www.iiie.net/

Diterjemahkan oleh : Cahyo Prihartono
Read More

Metode Usang Para Pembawa Misi ... Yang Selalu Berbohong




Umat Islam di Indonesia selalu saja mendapat cobaan yang nyata maupun samara-samar dari umat Kristen. Mulai dari kasus Doulos, penistaan Al Quran di Jawa Timur hingga penyusupan Stevanus Armansyah yang terbongkar di Samarinda. Umat Islam di Indonesia sudah cukup sabar dan toleransi terhadap tindak-tanduk umat Kristen mulai dari zaman kemerdekaan. Sebut saja perang keemrdekaan Indonesia yang hampir 95% mayoritas yang maju ke medan perang merupakan umat Islam. Toleransi yang tak kalah pentingnya adalah ketika Piagam Jakarta di buat, uamt Islam mengalah karena umat Kristen bagian Timur menolaknya. Dengan mengedepankan toleransi sekali lagi umat islam mengalah. Seiring berputarnya waktu penghujatan terhadap umat Islam kian hari makin mengkhawatirkan.

Vcd penistaan agama di Jawa Timur, penyusupan oleh Stevanus Armansyah di Samarinda, serta berbagai usaha Kristenisasi terhadap umat islam yang tak dapat disangkal lagi data dan faktanya kian hari membuat gaduh suasana toleransi antar umat beragama. Dahulu Indonesia dikejutkan dengan penerbitan buku “Islamic Invasion” oleh salah satu penerbit Kristen pimpinan Suradi Ben Avraham yang tak urung meyakiti hati umat Islam. Tak dengan buku, umat Islam kembali dihujat di Forum Diskusi bebas Partai Damai Sejahtera yang dengan kasar mencaci maki agama Islam. Penghujatan terhadap Islam di dunia maya sudah kian mengkhawatirkan, mulain dari website Fatihfreedom yang di boncengi para penginjil terselubung, hingga website SABDA pun ikut-ikutan menerapkan metode penginjilan ini.

Kali ini website SABDA menggunakan judul “penggunaan_alquran.doc” yang tersedia pada halaman website resmi mereka di www.sabda.org/lead/_doc yang dapat di buka oleh siaap saja. Sangat disayangkan SABDA sebagai penyebar alkitab elektronik juga latah menghujat Islam menggunakan Al Quran. Di dalam tulisannya pada artikel itu, judul artikel setelah di download adalah “Penggunaan Al Quran dalam Pelayanan”. Jelas sekali kelihatan disini bahwa mereka berusaha menginjili umat isla menggunakan mutilasi ayat seperti halnya Suradi Ben Abraham, Jansen Litik, A. Poernama Winangun serta Abd. Yadi yang sampai saat ini takut untuk berhadapan face to face karena malu untuk kalah argument di depan public. Denga penuh percaya diri, tulisan tersebut dimulai dengan sebuah catatan:

“Kalau seseorang tidak langsung menerima ide-ide di bawah ini, jangan putus asa. Mereka harus mendengarkan hal ini berulang kali dan membiasakan diri dengan konsep ini sebelum mereka akan menerimanya.”

Dengan bahasa yang tendesius ini merka dengan percaya diri mengklaim bahwa jika dapat menggunakan metode ini dengan baik, maka umat islam pasti bisa menjadi Kristen. Klaim kacangan yang di bangun oleh umat Kristen yang awam Islamologi ini sepert biasa menggunakan argument terbitan Nehemia Centre yang pemimipinnya lari keluar negeri, kita simak argument mereka berikut ini:

Al-Masih adalah Allah

Bertanyalah, “Siapakah yang mempunyai pengetahuan tentang hari kiamat?” Mereka pasti menjawab, “Allah.” Kemudian bacalah Sura 67:26 dengan mereka.

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.’”

Lihat lagi Sura 43:85
“Dan Maha Suci Tuhan Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”

Dan juga Sura 41:47
“Kepada-Nyalah dikembalikan pengetahuan tentang hari Kiamat [1336]…”
[1336] Maksudnya: Hanya Allah-lah yang mengetahui kapan datangnya hari Kiamat itu.
Tanya lagi. “Siapa yang mempunyai pengetahuan tentang hari kiamat itu?” Sekali lagi mereka akan mengatakan, “Allah.” Terus bacalah Sura 43:61

“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.”

Karena Al-Masih juga mengetahui tentang hari kiamat, maka dengan demikian Al-Masih pasti adalah Allah!


Kita tentu geli mengapa umat Kristen mengatakan bahwa Isa al Masih merupakan Allah karena berdasarkan Al Quran. Dengan tegas Al Quran mengatakan bahwa:

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata:  
"Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam", Padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Q.S. Al Maidah: 72).

Bagaimaan mungkin umat islam dapat mengatakan bahwa Isa Al Masih adalah Allah padahal ajaran Al Quran bahwa adalah kafir yang mengatakan Isa Al Masih adalah Allah. mereka berargumen bahwa Isa adalah Allah karena yang mengetahui kiamat adalah Allah dan Isa mengetahui tentang kiamat. Argument mereka pada surat berikut ini:

Dan Sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah aku. Inilah jalan yang lurus. (Q.S. Az Zukhruf 61).

Dari zamannya Hamran Ambrie hingga saat ini ternyata argument yang dipakai ya argument yang itu-itu saja. Argument mereka adalah mengenai “Isa memberikan pengetahuan tentang kiamat” yang merupakan terjemahan dari kata “La ‘Ilmun Lissa’ati”. Kata tersebut bermakna memberi pengetahuan (bukan mengetahui) tentang kiamat alam semesta. Nabi muhaamd dalam berbagai hadisnya juga sering memeberikan pengetahuan tentang kiamat, seperti bagaimana tanda-tanda kiamat, bagaimana posisi umat Islam tentang kiamat dan sebagainya. Tetapi umat Islam tidak pernah sekalipun menuhankan nabi Muhammad karena dia memberi ilmu (pengetahuan) tentang kiamat. Sebaliknya menurut Injil, Yesus pun tak mengetahu kapan kiamat itu. Kita bisa simak ayat berikut:

Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri." (Matius 24:36).

Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja." (Markus 13:32)

Yesus sebagai “Anak Tuhan” dan Allah menurut Kristen saja tidak mengetahui kapan “latter day” atau kiamat itu datang, sekarang menjadi lucu adalah di dalam Injilsaja tidak ditemukan tentang hal itu, sekarang mereka malah mencari pembenaran di dalam Al Quran tentang hal itu. Kami sarankan agar jika para penginjil ingin menyerang umat islam dan Al Qura, sebaiknya belajar baasa Arab dan ilmu-ilmu tafsir yang memadai agar tidak disebut sebagai “Jahil Murokkab”. Karena sangat fatal jika memutilasi ayat-ayat seperti model-model Hamran Ambrie, Suradi ben Avraham, Jansen Litik, serta Amos Poernama Winangun.

Artikel: Penggunaan Al Quran dalam Pelayanan” dapat dilihat pada link: http://sabda.org/lead/_doc/penggunaan_alquran.doc secara gratis pada sub domain dari website resmi SABDA.org

by : Aris Hardinanto

NB:
Segera save atau simpan screenshot web tersebut sebelum di hapus oleh adminnya, banyak kasus setelah ada yang "menggerayangi" web hujat Islam tersebut, biasanya oleh adminnya langsung di hapus (http://sabda.org/lead/_doc/penggunaan_alquran.doc)

artikel ini juga di muat pada:
1. http://timfakta.swaramuslim.com/more.php?id=44_0_1_0_M
2. http://swaramuslim.com/fakta/more.php?id=5900_0_16_0_M
Read More

Fitnah dari Filem Fitna

Pencerahan Terhadap "Fitna"

Cukup unik dan berani memang ulah politisi Belanda yang satu ini. Tanpa latar belakang pendidikan cinematografi dan kode etik jurnalistik politisi Belanda yang satu nekat meluncurkan sebuah film yang menurut saya kurang relijius. Geert Wilders, yang hobinya ngejar cewek, sang politisi Belanda tersebut telah meluncurkan sebuah film anti Islam berdurasi 16 menit 48 detik di sebuah situs di dunia Internet. Menurut saya pribadi film itu hanya merupakan sebuah ketakutan akan kalahnya kejahatan oleh kebenaran nilai-nilai di dalam Islam di negeri Belanda. Bagaimana tidak? Secara jujur di dalam harian ibu kota dirinya mengungkapkan bahwa dirinya takut imigran muslim merubah seluruh tindak tanduk kehidupan di negeri Belanda. Film yang berjudul “Fitna” itu sebenarnya merupakan sebuah Fitnah terhadap Islam karena dengan enteng menyebut Islam sebagai biang terror.

Film yang dimulai dengan mengutip sebuah surat di dalam Al Quran lengkap dengan murrotal nya ini seakan-akan menggambarkan bahwa peristiwa WTC pada 11 September 2001 dan bom yang meledak di dalam terowongan kereta api Madrid merupakan murni ajaran Islam.

Kita bisa simak pencaplokan ayat Quran di dalam film Fitna berikut ini:

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya . (Q.S. Al Anfal ayat 60).

Sayang sang politisi Belanda tersebut tidak membaca konteks ayat 60 surat Al Anfal tersebut, konteks ayat itu di mulai dari ayat 58 surat yang sama. Di dalam surat tersebut di dalamnya dimuat mengenai perihal pengkhianat dalam sebuah komunitas musyrik yang mana orang musyrik tersebut melakukan pengkhianatan. Oleh Allah jika kita khawatir terhadap perngkhianatan itu, maka kita disuruh untuk mengembalikan atau membatalkan terhadapnya, kita bisa simak pada ayat berikut ini:


Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, Maka kembalikanlah Perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat. (Q.S. Al Anfal ayat 58).

Tidak ada disebut-sebut dalam ayat itu mengenai pembataian masal seperti dituduhkan pada umat islam. Kita kembali pada konteks ayat 60, pada ayat 60 tersebut ditengahkan suasana ketika di medan perang kita memang harus melawan jika kita sedang ditindas, dan melakukan pembelaan terhdapa diri yang dianiyaya merupakans esuatu yang wajib. Coba kita pikirkan, jika kita tidak melawan pemerintahan penjajah Jepang pada waktu silam, maka dipastikan kita tidak akan merdeka, begitu pula dengan konteks ayat ini. ajaran tempeleng pipi kiri berikan pipi kanan tidak ada sama sekali di dalam ajaran Islam, karena kita harus membela diri kita jika kita di zhalimi oleh orang lain asalakan kita pada golongan yang benar. Penjajahan di Indonesia selama 350 tahun telah di lawan oleh perjuangan santri-santri serta ulama-ulama untuk membela apa yang menjadi haknya. Bung Tomo andaikata tidak melakukan pertempuran 10 November, maka dapat dipastikan Indonesia belum merdeka sampai saat ini.

Politisi Geert Wilders lupa pada ayat selanjutnya, yaitu tentang perdamaian. Sangat disayangkan bahwa Geert Wilders tidak mengutip ayat selanjutnya perihal abitrase dalam peperangan. Kita simak ayat berikut ini:

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, Maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Q.S. Al Anfaal 61).

Lihat!, betapa mulaianya ajaran Islam yang mengajarkan perdamaian diatas segala-galanya. Perdamaian di tulis dalam surat diatas sebagai poin utama dan terutama dalam setiap defensive terhadap peperangan. Perdamaian lebih diutamakan dari pada peperangan. Geert Wilders sengaja menghilangkan ayat selanjutnya untuk menambah statemen bahwa Islam mengajarkan sesuatu yang buruk.

Selain ayat diatas Geert Wilders juga mengutip tentang ayat Al Quran perihal siksa dalam neraka pada hari pembalasan kelak. Di dalam surat itu dijelaskan bahwa orang-orang yang mengingkari Allah akan disiksa yaitu kulitnya akan diganti kulit yang lain, kita simak ayat berikut:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An Nisaa’ 56).

Allah telah mengutus sekian nabi untuk membimbing umat manusia pada jalan Allah. Syariat dan Minhaj dari masing-masing nabi tentu berbeda. Tetapi kebanyakan umat manusia telah mengingkari syariat dan jalan yang diridhoinya. Seperti contoh mudah adalah tentang perihal nubuatan Muhammad dalam berbagai kitab-kitab yang pernah diturunkan, di dalam berbagai kitab Samawi eksistensi Muhammad telah di jelaskan dengan gambling, tapi apa yang terjadi kemudian? Nubuatan itu dirubah dan diganti agar kabur maknanya. Jika perbuatan baik itu pastilah menghasilakan buah yang baik, dan perbuatan jahat pastilah menghasilkan buah yang busuk atau tidak layak pakan.

Sekali lagi kita melihat adanya kesalahan pengutipan oleh Geert Wilders ini, ternyata dia hanya sampai pada ayat 56, sehingga seolah-olah umat Islam hanya di gambarkan sebagai neraka saja, padahal balasan terhadap perbuatan baik dapat kita lihat di dalam ayat selanjutnya.


Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang Suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman. (Q.S. An Nisaa’ 57).

Bagi orang yang menjalankan kebaikan pasti dia akan memperoleh tempat yang merupakan buah dari kebaikannya yaitu amalan sholeh, dan bagi yang mengingkari akan Allah, tentunya buah dari perbuatan buruknya yang akan menemaninya. Dan ajaran ini erupakan ajaran setiap agama di dunia dimana pasti ada baik dan buruk, ada yang beriman dan ada yang kafir, ada wanita ada pria.

Selanjutnya Geert Wilders juga mengutip surat Muhammad ayat 4 berikut:

Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) Maka pukullah leher mereka. sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka Maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. (Q.S. Muhammad: 4).

Sepintas jika kita tidak melihat dari ayat pertama surat Muhamad ini, maka kesan yang timbul adalah pembunuhan. Konteks ayat pertama hingga ayat yang dikutip dalam film Fitna sejatinya merupakan konteks pada medan pertempuran (perang) ketika peperangan sedang berkecamuk. Kata “Dhorbarrikob” yang berarti memukul pada leher mereka yang dimaksud dengan ungkapan memukul dengan cara mematikan musuh yang biasanya dengan cara memancung ataupun dengan cara mempercepat kematian padalawan dimaksudkan agar lawan ketika bertempur andaikata berperang dan terluka tidak mengalami sakita yang luar biasa dan juga agar lawan yang terluka tidak terlalu lama menahan kesakitan. Dan hal inipun di bolehkan dalam peperangan apapun baik dalam militer maupun dalam peperangan tempo dulu.

Dalam keadaan peperangan korban tak dapat di hindarkan, jika kita berperang melawan musuh yang zhalim, maka hanya ada dua kemungkinan, pihak yang benar yang wafat atau pihak yang salah yang wafat. Jadi bukan merupakan sebuah alas an jika Islam itu mengajarkan pembunuhan seenaknya tanpa alas an. Dalam kisah nabi-nabi maupun orang-orang yang berperang di dalam kitab-kitab sebelum al Quran juga dijelaskan bagaimana teknik perang tersebut. Dan andaikata itu merupakan sebuah ajaran yang wajib di lakukan, maka dapat dipastikan umat manusia (khususnya Islam) akan habis dari dunia ini karena tidak menjaga perdamaian seperti pada surat Al Anfaal ayat 61yang sudah kita bahasa diatas.

Sebetulnya masih banyak kesalahan dan penafsira yang keluar dari konteksnya oleh Geert Wilders untuk menjustifikasi bahwa Islam itu tidak toleran terhadap agama lain dan kebebasan (freedom). Dalam pembahasan diatas sudah dapat kita lihat bagaimana Geert Wilders dengan seenaknya sendiri merubah-rubah kalimat Allah agar keluar dari konteksnya. Bantahan ini dimaksudkan untuk menanggapi statement Geert Wilders di salah satu surat kabar agar argument di bantah dengan argument, maka sebagai umat islam yang dewasa sudah seharusnya kitamemberi penjelasan terhadap mereka yang belum mengerti agar mereka faham yang sebenarnya. Kita tak perlu melalkukan tindakan anarkis yang dapat merusak nilai-nilai yang terkandung di dalam Al Quran, kita dapat contoh ketika Nabi Muhammad di Thaif di lempari batu hingga berlumuran darah dan gigi beliau tanggal yang saat itu juga Jibril datang menawarkan option kesediaanya untuk mengambil gunung dan melemparnya pada penduduk Thaif; tetapi apa jawab Nabi SAW, Ya Jibril mereka belum mengerti, dan aku akan meminta kepada Allah agar keturunan mereka kelak akan berjuang di jalan Allah.

Wallahu a’lam bi showab.

Link yang memuat artikel ini: http://swaramuslim.com/more.php?id=5921_0_15_0_M
Read More

Di Sebuah Bis Menuju Surabaya



Salah seorang missionaris dalam perjalanan bis kota antar kota mendekati penulis. Awal percakapan itu sang Missionaris menanyakan tentang agama penulis, penulispun menjawab bahwa agama saya adalah Islam. Selanjutnya sang Missionaris itu mulai mencoba "menggerayangI" keimanan penulis dengan bertanya: "Apakah Al Quran menjamin keselamatan seorang muslim, termasuk Muhammad ?", tanpa berpikir panjang saya pun menjawab: "Tentu saja, karena keimanan dan amal shalih yang dapat menghantarkan kita menuju keselamatan di dunia dan akhirat". Berikut ini adalah transkrip perdebatan penulis dengan Missionaris yang mengaku bernama Yapto, tetapi missionaris itu tidak mengetahui siapa penulis sebenarnya pada awal perdebatan. Terima Kasih saya pribadi ucapkan kepada saudara M. Aswin Syahrani yang telah mencatat dan merekam dalam HP perdebatan ini ...

MISSIONARIS : "Anda tentu sholat bukan, mengapa di dalam sholat itu kita selalu mengatakan Allahumma sholi 'alaa Muhammad, yang berarti Ya Allah berilah keselamatan atas Muhammad, secara logika do'a adalah pengharapan akan sesuatu yang belum terjadi agar terjadi, contoh: Saya berdoa agar anda selamat dalam perjalanan anda ini, berarti kan anda belum pasti selamat?"

MUSLIM : "Sholawat yang anda kutip bagi tadi saya belum seberapa membuktikan bahwa muslim itu, termasuk Muhammad, adalah belum selamat; sebenarnya jika anda jeli anda bisa temukan yang kalau ditafsirkan amburadul bisa membuat umat Islam itu tidak tahu jalan alias sesat"

MISSIONARIS : "Lho kok anda malah berkata demikian?"
MUSLIM : "Coba anda buka di Terjemah Quran saya lihat sepintas di tas yang anda bawa tadi".

MISSIONARIS : "Ternyata anda jeli juga, oke saya buka, di surat apa?"
MUSLIM : "Buka surat Al Fatihah ayat 6, dan tolong bacakan"
MISSIONARIS : "Tunjukanlah kami jalan yang lurus (stop saya menyela dirinya)"
MUSLIM : "Secara logika anda, umat Islam belum selamat kan?, dan secara pemahaman anda tadi bahwa doa adalah pengharapan akan sesuatu yang belum terjadi supaya terjadi, misal yang belum selamat menjadi selamat, berarti yang memohon berada di jalan yang lurus belum berada di jalan yang lurus kan?"

MISSIONARIS : "Betul"

MUSLIM : "Seharusnya anda mencounter saya dengan ayat itu dulu untuk membuat saya ragu akan Islam, jangan langsung kutip Sholawat Nabi, kan namanya pemurtadan tidak sistematis, bener gak?"

MISSIONARIS : (tersenyum)

MUSLIM : "Sekarang giliran saya mengcounter anda Oke?, Ayat 6 surat tersebut adalah ajaran dari Allah kepada hambanya dan merupakan falsafah doa. Ajaran ini mempunyai nilai yang sangat tinggi baik filosofis maupun agamis, agama Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk suatu perilaku yang paling luhur dan dalam, sehingga umat islam menyadari kedudukannya sebagai makhluk dan hamba yang tidak tahu apa-apa. Kita sebagai manusia tentu menyadari kelemahan sebagai ciptaan Allah dan sebagai makhluk Allah sehingga tercipta sebuah tindakan dan sandaran untuk tempat memohon serta meminta pertolongan yang paling utama, yakni perlindungan dan petunjuk dari Nya. Islam mengajarkan agar setiap insan terutama pemeluknya agar selalu merendahkan diri kepada Allah yang menciptakan dirinya, melepaskan sifat keangkuhan dan kesombongan. Bagaimana dengan Yesus yang nada laim sebagai Tuhan? untung saya tadi bawa Alkitab, ini Alkitab saya resmi lho ya yang di terbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia. coba anda buka Matius 26: 38-39, saya bacakan tolong kupingnya dipasang: Maka ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kataNya: "Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari BapaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukuehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki, coba lihat Yesus merendahkan diri di hadapan Bapa, seorang Allah Putera merendahkan diri dihadapan Alah Bapa....

MISSIONARIS : "Tapi konteks ayat itu adalah Yesus ketika akan ditangkap Yahudi sehinga memohon kepada Bapanya".

MUSLIM: "Nah tambah jelas dong Yesus memohon kepada Bapa, berarti Yesus tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya, dalam kaidah logika: Seseorang yang meminta kepada Tuhan adalah bukan Tuhan, Yesus meminta kepada Tuhan berarti Yesus bukan Tuhan, masuk akal gak?"

MISSIONARIS : (Diam)
MUSLIM : "Dan Yesus juga mempunyai dosa, mau bukti?"
MISSIONARIS : "Yesus mengampuni dosa umat manusia, Dia tidak punya dosa"
MUSLIM : "Jangan berkilah, silahkan buka Lukas 11: 2-4 saya bacakan tolong dengarkan dengan kuping mendekat "Bapa dikuduskanlah namaMu....dan ampunilah kami dan atas dosa kami"". Menurut penjelasan logika anda tadi bahwa yang namanya doa adalah pengharapan atas sesuatu yang belum terjadi agar terjadi....naaahhh....ada dua kecacatan Allah menurut logika anda di hadapan ayat ini: 1. adalah Bapa adalah sebelum di doakan adalah belum kudus dan yang kedua adalah Yesus berdoa supaya diampuni dosanya berarti Yesus berdosa.

MISSIONARIS : "Ayat itu merupakan ajaran doa Yesus pada umat manusia agar sellau memohon doa pada diriNya"

MUSLIM : "Tunggu dulu, coba anda perhatikan kata-kata di kuduskan namaMu...dan ampunilah atas dosa kami", kok anda tidak jujur begitu mas, itu ucapan yang menurut logika anda tadi Bapa di doakan agar kudus dan Yesus berdosa meminta ampun akan dosanya, sekarang apa waktu itu Yesus berdoa pada dirinya sendiri? jawab dulu!"

MISSIONARIS : (diam)
MUSLIM : "Ya tidak dong mas, dia berdoa pada BapaNya yaitu Allah Ta'ala, karena Yesus selalu mengatakam Allah adalah Bapa, contoh: "Aku Belum pergi kepada BapaMu dan BapaKu, AllahKu dan AllahMu" Yesus menyebut Allah itu sebagai Bapa.

MISSIONARIS : "Maaf tadi saya belum tahu nama anda (khas penginjil keliling jika sudah terpojok), siapa nama anda?"

MUSLIM : "Saya Aris, dari Tim FAKTA, oke sudah tahu kan nama saya, kita lanjutkan perdebatan kepada sholawat"

MISSIONARIS : "Sebentar lagi saya turun di pertigaan Pandaan, sejujurnya saya senang sekali akan diskusi lintas agama ini"

MUSLIM : "Arah pertanyaan anda dapat saya baca, anda mengambil buku-buku Nehemia Centre, Abdul Yadi, Iskandar Jadeed, Robert Morey, Jansen Litik, dan si Habib Makhrus, apa ada yang terlewat dari ucapan saya?"

MISSIONARIS : " (senyum)...Saya juga heran kok ada anggota FPI yang murtad"
MUSLIM :" Makhrus Ali sudah Islam, sudah berbulan-bulan yang lalu, anda paling baru mendapat gandaan VCD Makhrus beberapa minggu yang lalu paling....iya kan?"

MISSIONARIS : "Lho Makhrus Ali itu Kristen"
MUSLIM : "Ini ada nomer Hp Markus Margianto alias Makhrus Ali, mau saya telfonkan dengan Loud Speaker (sambir masuk ke contacts dan kursor pada Makhrus Ali (Habib Gadungan))?"

MISSIONARIS : (terdiam...)
MUSLIM : "Anda masih orang baru yang belajar memakai bahan lama yang sudah expired, kalau ingin "mengganggu" aqidah umat Islam sebaiknya dengan argumen yang masuk akal, baru dan lebih hebat dari argumen yang itu-itu saja, ada satu kardus lemarin es buku yang macam begitu"

MISSIONARIS : "Oke mas, terima kasih atas waktunya, semoga Tuhan Yesus Memberkati"
MUSLIM : "Mau Debat topik Yesus bukan Tuhan?"
MISSIONARIS : "Ha...ha...ha..(tertawa dan tersenyum kemudian, beberapa saat kemudia ia turun dari bisa di pertigaan Pandaan, Jawa Timur)


NB: Perkuat aqidah dan keilmuan kita agar tidak kaget dalam menghadapi Missionaris yang tiba-tiba berada di samping anda.
Read More